Terkadang aku heran sama orang yang berpikiran kalau punya pacar itu adalah hal yang sangat wajib. Tipe seperti ini akan mati-matian nyari pacar ketika mereka single. Mulai dari usaha sendiri sampai maksa-maksa minta dijodohin sama teman. Pas udah jadian, ehh... tiap hari malah galau dan gak tahan ingin cepat-cepat udahan.
Banyak yang bilang juga setiap makhluk hidup pasti saling berpasang-pasangan. Entah itu manusia, binatang, atau sandal jepit sekali pun. Semua memang sudah ada pasangannya masing-masing. Tapi apa hah? apa? buktinya kenapa aku masih single. Ingat ya, single sama jomblo itu beda. Single itu prinsip, jombol itu nasib, kalau Rian udah jelas d’Masiv.
Nih aku jujur ya, aku belum pernah pacaran, sama sekali belum pernah yang namanya pacaran, yang namanya pacaran itu aku belum pernah, pokoknya aku belum pernah pacaran deh. Haaahaha, pusing ya bacanya? Loh, kan aku yang belum pernah pacaran, kok kalian yang pusing sih!
Tapi kalau merasakan cinta itu pernah, malah sejak aku kelas enam sekolah dasar. Nggak tahukenapa, mungkin kebanyakan nonton film tentang cinta kali ya?
Huaaahhhh...
Dulu, aku mengira kalau kuliah itu sama kayak yang sering aku tonton di tv. Datang ke kampus, nongkrong-nongkrong di taman, kenalan sama cewek, dan akhirnya jadian. Atau bisa juga datang ke kampus agak telat, lari-larian di tangga, nabrak cewek, bantu beresin bukunya yang jatuh, kenalan, dan akhirnya jadian.
Adegan-adegan kayak gitu tuh yang membuat kuliah terlihat sangat keren, benar-benar menggiurkan!. Tapi ternyata, kenyataannya malah beda banget menn!!!
Kenyataannya adalah datang ke kampus, nungguin dosen, nyatat materi, tugas numpuk, hapalan segudang, suka ada kuis dadakan, harus ikut midterm, harus ikut final, benar-benar ngabisin masa muda banget menn!!!.
Aku punya teman namanya Pia. Bukan! bukan cewek, dia cowok menn! nama lengkapnya Sofyan Widhiyono. Dia lebih tua dari aku, pengalaman cintanya juga lebih banyak daripada aku. Sakin banyaknya pengalaman cinta yang dia miliki, sampe-sampe dia tempelin semua photo mantan-mantannya di tembok, hingga membentuk mozaik bergambar hati gituh. Wow, itu awesome banget menn!!!
Tapi ada yang ganjil, ditengah-tengah mozaik itu ada space yang sengaja dikosongkan. Katanya sih bakalan ditempel photo juga, tapi sama photo seseorang yang benar-benar jadi pendamping hidupnya nanti. Sekali lagi, itu awesome banget menn!!!
Kalo lagi dirumahnya, aku sama Pia sering main game, game yang cukup unik, game yang berkaitan tentang mozaik mantan-mantannya itu. Cukup simple, aku nunjuk satu photo mantannya, terus dia yang sebutin nama yang ada di photo itu. Atau sebaliknya, aku sebutin satu nama mantannya yang ada dibuku setebal kamus (gila... setebal kamus menn!!! nggak kebayang sebanyak apa mantannya), terus dia tinggal tunjukin yang mana photo yang ku sebutin nama mantannya tadi. Simple kan???
Tapi anehnya waktu aku sebutin satu nama, nama mantannya, Markonah!!! Kenapa dia langsung cepat banget nemuin photo Markonah ya? Hmmm... mungkin ini yang dinamakan mantan terindah.
“Mantan Terindah?”
Mantan terindah, banyak orang yang menjadikan mantan terindah itu sebagai topik pembahasan, apalagi kalo lagi ngobrol sama teman, apalagi kalo yang ngobrol itu cewek-cewek, apalagi kalo cewek-ceweknya rempong.
Eeuuhhh...!!!
Pernah kejadian nih waktu aku lagi ngopi di cafe, aku sengaja duduk di meja yang paling pojok, bukan buat nonton bokep, tapi buat ngehindar dari cewek-cewek rempong. Karena cafe yang lagi aku tongkrongin ini biasanya tempat para cewek-cewek rempong gituh.
Tapi yang namanya apes nggak kemana menn!!! Mereka datang tepat pada waktu pantatku mendarat di kursi. Padahal mereka masih dipintu, tapi suaranya Masyaallah... udah kayak mau ngerampok tuh cafe. Aku cuma bisa berdo’a supaya mereka nggak duduk disebelah mejaku aja.
Tapi yang namanya apes nggak kemana menn!!! Dan kampretnya karena meja lain udah pada penuh, terpaksa deh mereka duduk dipojok juga, bersebelahan dengan mejaku.
Mau keluar cafe, tapi udah terlanjur pesan,
Mau nutup telinga pake headphone, tapi nggak ku bawa.
Ini dilema. Dilemaaaa...!!!
Mau nggak mau ya aku harus dengar apa yang mereka bicarakan, kalo aku nggak mau itu ibarat kayak lagi di discotheque tapi nggak mau dengar musik yang dimainkan Disc Jokey. NGGAK BISA MENN!!!
Okeh, disini biar aku deskripsikan apa yang mereka bicarakan sehingga kalian bisa merasakan apa yang aku rasakan.
Mereka berempat, dan mereka memakai baju dengan warna yang sama. Mereka kayak genk-genk di gang-gang tempat biasa anjing menggong-gong gituh. Ada satu cewek yang pede banget pake sepatu high heels disebelah kanan, sebelah kiri malah sendal jepit.
Nah, cewek yang over confident tadilah yang mulai ngebahas tentang mantan terindah.
“Eh... Ehh... Kalian tau nggak sih kalo aku lagi kangen sama mantanku???”, jerit si cewek over confident.
“Aaaahhh... Masa sih, Ya ampuuunnn....!!!”, dengan serentak teman-temannya nyambut jeritan si cewek over confident tadi.
“Hellooowww, dia kan mantan terindah yang pernah ku miliki. Jadi wajar aja dong kalo aku kangen sama dia. Lagian dia beda sama cowok-cowok yang lain, dia selalu menghormatiku sebagai wanita, dia nggak pernah macam-macam. Pokoknya dia perfect deh!!!” Lanjutnya.
“Terus, kenapa kalian bisa putus?”, tanya salah satu temannya.
“Yaa, karena udah nggak cocok lagi ...” jawabnya sambil nangis di bahu temannya.
Hmmm...
Kami semua yang ada di cafe seperti lagi nonton drama. Semua mata cuma tertuju pada mereka berempat.
Tiba-tiba teman yang satunya lagi ngelus-ngelus kepala si cewek over confident tadi, dan berkata, “Sudahlah Markonah, yang lalu biarlah berlalu”.
...
Saat itulah aku tau, bahwa mantannya Pia adalah seorang cewek yang suka mengkolaborasikan high heels dengan sendal jepit. Iya, siapa lagi kalo bukan Markonah. Tapi kenapa Pia bisa teringat banget ya sama si Markonah. Mungkin ini bukan mantan terindah, melainkan mantan terunik.
Pia sempat berkata kepadaku, katanya sih nih prinsip dia ciptakan sendiri untuk dirinya sendiri. Prinsipnya kurang lebih kayak gini:
“Jangan percaya bahwa melepaskan selalu berarti kamu benar-benar mencintai, melainkan berjuanglah demi cintamu. Itulah cinta sejati”,
“Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan dari pada berjalan bersama orang yang tersedia”,
“Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai dari pada orang yang berada di sekelilingmu”,
“Lebih baik menunggu orang yang tepat karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang hanya dengan satu orang”.
Begitulah prinsip si Pia yang sempat membuatku terkagum-kagum dengan prinsipnya barusan, dan akhirnya aku sadar itu bukan prinsip yang dia cipatakan sendiri, melainkan itu puisi karya Kahlil Gibran.
Kampret tuh Pia.
Jadi... ingat ya, Singel itu prinsip dan jomblo itu nasib. Heeehehehe =))

{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar